Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEPI SENDIRI

Sepi itu bukan selalu tentang tidak ada orang. Kadang di tengah keramaian, di tengah chat grup yang rame, di tengah kantor yang sibuk, kita tetap bisa merasa sepi sendiri. 

Sepi sendiri rasanya aneh. Rumah penuh suara, tapi hati kosong. HP bunyi terus, tapi tidak ada yang benar-benar kita tunggu pesannya. Kita ketawa bareng teman, tapi begitu sampai rumah dan lampu dimatikan, dadanya terasa sesak.

Manusia memang makhluk sosial. Kita butuh didengar, butuh dipahami, butuh tempat pulang. Tapi tidak semua kesepian bisa diobati dengan keramaian. Ada sepi yang datang karena kita terlalu lama memendam. Ada sepi karena capek berpura-pura "baik-baik saja" di depan orang. Ada sepi karena kita merasa tidak ada yang benar-benar melihat kita, bukan sekadar melihat status kita.

Suasana Sepi by Mase Budi

Di zaman sekarang sepi sendiri rasanya makin nyata. Kita scroll media sosial dan melihat semua orang tampak bahagia. Liburan, makan enak, ketemu teman. Sementara kita rebahan di kamar, makan mie instan, dan menatap langit-langit. Otak mulai bertanya: "Kenapa hidupku gini-gini aja?" Padahal mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama. Hanya saja tidak ada yang mau mengaku.

Sepi sendiri juga bisa datang setelah kita kehilangan. Kehilangan orang, kehilangan pekerjaan, kehilangan versi diri kita yang dulu semangat. Dunia tetap jalan, tapi kita seperti ketinggalan di satu titik. Semua orang sibuk maju, sementara kita masih duduk memeluk luka.

Lalu apa yang harus dilakukan saat sepi sendiri datang? 

Pertama, akui saja. Jangan dilawan dengan pura-pura sibuk. Duduk, tarik napas, dan bilang ke diri sendiri: "Aku lagi sepi. Dan itu wajar." Menyangkal rasa hanya akan bikin dia makin besar.

Kedua, jadikan sepi sebagai teman, bukan musuh. Sepi itu ruang. Di dalam sepi kita bisa dengar suara hati sendiri yang biasanya ketutup bising. Di dalam sepi kita bisa baca buku yang tertunda, nulis jurnal, masak, olahraga, atau sekadar ngobrol sama diri sendiri. Banyak ide besar lahir dari orang yang berani duduk dengan sepinya.


Ketiga, buka pintu pelan-pelan. Sepi tidak akan hilang kalau kita terus mengurung diri. Chat satu teman. Telepon ibu. Jalan ke warung. Nongkrong di kedai kopi. Tidak harus cerita. Kadang cukup duduk bareng dan tidak canggung karena diam.


Yang perlu kita ingat: sepi sendiri bukan berarti tidak berharga. Bunga juga mekar di tempat sepi. Pelukis besar melukis di kamar yang sepi. Penulis menulis di sudut yang sunyi. Mungkin Tuhan sedang mengajak kita bicara, tapi kita terlalu bising untuk mendengarnya.

Sepi akan datang dan pergi. Sama seperti hujan. Kita tidak bisa memerintah hujan berhenti, tapi kita bisa berteduh, lalu jalan lagi setelahnya. 

Jadi kalau malam ini kamu merasa sepi sendiri, tidak apa-apa. Seduh teh, selimutan, putar lagu pelan. Bisikin ke diri sendiri: "Aku tidak sendirian. Aku punya aku."

Karena pada akhirnya, orang yang paling setia menemani kita seumur hidup ya diri kita sendiri. Belajarlah berdamai dengannya. Siapa tahu, dari sepi sendiri itu kita justru menemukan versi diri yang paling utuh.


Post a Comment for "SEPI SENDIRI"