Rumah Kayu Hijau Tempat Tinggalku
Di ujung gang yang teduh, ada sebuah rumah kayu berwarna hijau. Catnya sudah tidak kinclong lagi, sedikit pudar kena hujan dan panas. Tapi buatku, rumah itu adalah tempat paling nyaman sedunia. Rumah Kayu Hijau tempat tinggalku.
Rumah ini peninggalan kakek. Dibangun dari kayu jati pilihan, tiangnya kokoh, lantainya berderit kalau diinjak. Dari luar sederhana. Pagar bambu, halaman kecil dengan pot bunga melati dan lidah mertua. Tapi begitu masuk, rasanya langsung hangat.
![]() |
| Rumah Kayu By Mase Budi |
Dinding kayunya berwarna hijau sage. Katanya dulu ibu yang pilih warna itu. "Biar adem kayak daun," katanya. Dan benar. Setiap pulang kerja atau sekolah, begitu melihat warna hijau itu, capekku langsung luntur. Hijau menenangkan. Hijau mengingatkan pada sawah di belakang rumah dan pohon mangga yang rindang.
Di teras ada dua kursi kayu dan meja kecil. Itu spot favorit kami sekeluarga. Pagi-pagi bapak ngopi sambil baca koran. Sore-sore ibu duduk menjahit sambil ngobrol sama tetangga. Malamnya aku dan adik sering gelar tikar, mengerjakan PR sambil ditemani suara jangkrik. Tidak ada AC, tapi angin yang masuk dari celah jendela kayu rasanya lebih sejuk dari apa pun.
Bagian paling aku suka adalah dapurnya. Kompor masih pakai tungku, asapnya kadang bikin mata perih. Tapi masakan ibu di dapur itu rasanya paling enak sedunia. Wangi sayur bening, ikan goreng, dan sambal terasi sering kecium sampai ke jalan. Dinding dapur sudah menghitam karena jelaga, tapi justru itu yang bikin berkesan. Itu bukti rumah ini hidup.
Rumah Kayu Hijau juga saksi banyak cerita. Di ruang tamu ini aku pertama kali belajar jalan, pegangan ke meja. Di kamar kecil itu aku nangis semalaman waktu gagal ujian. Di kolong rumah aku dan adik main petak umpet sampai lupa waktu. Setiap papan kayu, setiap sudut, punya memori.
Orang bilang rumah kayu itu ribet. Kalau musim hujan bocor, kalau kemarau panas. Rayap juga jadi musuh. Tapi bapak selalu rajin mengecat ulang dan mengecek tiang-tiangnya. "Rumah itu kayak manusia," kata bapak. "Harus dirawat biar awet."
Sekarang banyak rumah modern bermunculan di kampungku. Tembok tinggi, cat putih, pagar besi. Tapi aku tetap pilih tinggal di sini. Karena rumah bukan soal mewah atau tidak. Rumah adalah tempat kita merasa pulang. Tempat kita bisa jadi diri sendiri tanpa topeng.
Hijau rumah ini juga mengajariku banyak hal. Mengajarkan untuk hidup sederhana. Mengajarkan untuk bersyukur dengan apa yang ada. Mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus mahal. Cukup ada atap, ada keluarga, ada nasi hangat, itu sudah cukup.
Kadang teman-temanku datang dan bilang, "Rumahmu estetik banget." Aku cuma ketawa. Buat mereka mungkin ini aesthetic. Buatku ini rumah. Tempat aku tumbuh, jatuh, bangkit, dan bermimpi.
Suatu hari nanti kalau aku sudah besar dan punya rumah sendiri, aku mau bangun rumah dengan warna yang sama. Hijau. Karena aku mau anak-anakku juga merasakan ademnya pulang ke Rumah Kayu Hijau.
Selama masih ada derit lantai kayu, bau kayu yang kena hujan, dan lampu temaram di teras, aku tahu aku tidak akan pernah kesepian.
Karena di sinilah hatiku tinggal. Di Rumah Kayu Hijau tempat tinggalku. 🍃🏡

Post a Comment for "Rumah Kayu Hijau Tempat Tinggalku"