Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kucing Hitam Lapar

Kucing Hitam Lapar

Jam setengah enam sore. Langit mulai oranye. Dari balik pagar, aku dengar suara “meong... meong...” pelan tapi memaksa. Aku intip. Di situ dia lagi. Kucing hitam kurus, bulunya kusam kena debu, matanya kuning menatap lurus ke arah dapurku.

Ini bukan pertama kali. Sudah seminggu dia datang. Duduk di tempat yang sama, tidak berisik, tidak merusak. Cuma duduk dan menunggu. Seolah bilang: “Aku lapar.”

Kucing Hitam By Mase Budi

Awalnya aku cuek. Kira dia kucing liar yang sebentar lagi pergi. Tapi tiap sore dia balik lagi. Tepat waktu. Lebih disiplin dari alarm HP-ku. Lama-lama aku jadi merasa bersalah kalau lewat dan pura-pura tidak lihat.

Hari ini aku akhirnya keluar bawa sepiring nasi sisa campur ikan tongkol. Begitu diletakkan di lantai, dia tidak langsung nyerbu. Dia lihat aku dulu. Mungkin takut. Mungkin nunggu izin. Setelah aku mundur beberapa langkah, baru dia mendekat. Makannya cepat, lahap, tapi hati-hati. Sesekali dia berhenti, menoleh, seperti ngecek “aman nggak nih?”

Habis makan dia duduk di dekat pot. Menjilat mulutnya, lalu membersihkan kumisnya. Perutnya yang tadinya kempis sekarang agak buncit. Dia lihat aku lagi, lalu “meong” sekali, pelan. Aku anggap itu terima kasih.

Kucing hitam sering dapat stigma jelek. Katanya pembawa sial, pertanda mistis. Padahal kalau dilihat lebih dekat, dia sama saja seperti kucing lain. Butuh makan, butuh tempat aman, butuh disayang. Warna bulunya tidak bikin dia jadi jahat. Yang bikin jahat itu manusia yang suka buang dan mengusir.

Aku kasih nama dia “Arang”. Karena hitamnya legam kayak arang. Hari kedua, Arang datang lagi. Kali ini bawa teman. Kucing oranye yang lebih kecil. Aku tambah nasinya. Ternyata lapar itu menular. Satu yang kenyang, ngajak yang lain.

Kucing Makan By Mase Budi

Dari Arang aku belajar banyak. Dia tidak pernah minta banyak. Tidak pernah komplain soal menu. Dikasih nasi ya dimakan. Dikasih tulang ya dikunyah. Dia tidak peduli rumahku sederhana. Yang dia mau cuma satu: perut terisi dan ada tempat berteduh kalau hujan.

Sore hujan kemarin Arang tidak datang. Aku khawatir. Apa kehujanan? Apa diusir orang? Jam 8 malam baru dia nongol, basah kuyup, menggigil. Aku lap pakai handuk bekas dan kasih kardus di teras biar dia bisa tidur. Malam itu dia tidur pulas di situ. Tidak berisik. Tidak merepotkan.

Tetangga ada yang bilang, “Ngapain ngasih makan kucing liar. Nanti malah numpuk.” Mungkin benar. Tapi kalau bukan kita yang kasih makan, siapa lagi? Di jalanan tidak ada warung buat kucing. Tong sampah pun sekarang sering dikunci.

Memberi makan Arang tidak bikin aku miskin. Sepiring nasi sisa. Ikan yang tadinya mau dibuang. Tapi buat dia itu artinya hidup untuk satu hari lagi.

Sekarang sudah sebulan. Arang jadi “penjaga” teras. Kalau ada tikus, dia kejar. Kalau ada orang asing, dia awas. Imbalannya cuma makan sore dan sesekali elusan di kepala. Itu cukup buat dia.

Dari kucing hitam lapar ini aku ingat: di dunia ini banyak yang lapar. Bukan cuma perut. Ada yang lapar perhatian. Lapar diterima. Lapar disapa. Kadang kita terlalu sibuk sampai tidak lihat ada “Arang-Arang” lain di sekitar kita yang cuma butuh sedikit.

Jadi kalau kamu ketemu kucing hitam di jalan, jangan buru-buru mengusir. Mungkin dia cuma lapar. Mungkin dia cuma butuh 5 menit dari waktumu dan sepiring makanan.

Karena kebaikan sekecil itu, bisa mengubah satu hari penuh bagi makhluk kecil yang selama ini hanya bisa bilang “meong”.

Dan buatku, Arang bukan kucing liar lagi. Dia keluarga. Keluarga yang datang dengan perut lapar, dan pulang dengan hati kenyang. 🖤🐈

Post a Comment for "Kucing Hitam Lapar"